Perfeksionis: Kelebihan atau Kekurangan?

Setiap orang memiliki karakter yang  berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap karakter manusia tentunya memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, tidak terkecuali dengan karakter perfeksionis.

 

Menurut Wikipedia, perfeksionisme adalah sebuah pandangan yang dimiliki oleh seorang perfeksionis, yang menyakini bahwa seseorang harus menjadi sempurna untuk mencapai kondisi terbaik, baik itu dalam aspek fisik maupun non-materi. Definisi ini diamini oleh Jennifer Kromberg, seorang psikolog dan terapis, yang mengatakan bahwa perfeksionisme adalah sebuah dorongan dari dalam diri untuk terus menerus memiliki kehidupan yang berjalan sempurna.

 

Dalam mengejar mimpi, sifat perfeksionis memiliki manfaat dan kekurangan, tergantung dari sudut pandang kita dalam melihatnya. Apa saja sih manfaat dan kekurangannya?

 

1. Memiliki standar dan kualitas yang tinggi, sehingga kamu akan kerja dua kali lebih banyak

 

Seseorang yang perfeksionis mempunyai standar dan kualitas yang tinggi dalam segala hal. Ia tidak akan merasa puas dengan melakukan suatu yal yang biasa saja atau belum memenuhi standar minimum versinya. Oleh karena itu ia akan melakukan pekerjaan sebanyak yang ia perlukan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

 

2. Sangat teliti, namun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan pekerjaan

 

Karena mengharapkan sesuatu yang sempurna, maka seseorang yang perfeksionis sangat teliti dalam melakukan pekerjaannya dan tidak mengabaikan sesuatu hal yang kecil. Namun karena ketelitian tersebut, ia akan sangat lama menyelesaikan pekerjaannya. Bisa dibilang orang perfeksionis mempunyai tingkat produktivitas yang rendah.

 

3. Selalu ingin memberikan citra dan image yang baik, tetapi cenderung mengerjakan sesuatu yang tidak perlu

 

Perfeksionis tidak ingin terlihat jelek di mata orang lain, oleh karena itu ia akan melakukan segala cara dan upaya untuk memberikan citra yang baik untuk dirinya dan karya yang dibuatnya. Namun karena upayanya untuk memberikan citra yang positif, ia cenderung mengerjakan sesuatu yang tidak perlu.

 

Misalnya seorang desainer perfeksionis akan fokus pada pembuatan sebuah pola yang terlalu detil, yang klien atau rekan kerjanya tidak akan menyadari atau bisa jadi tidak peduli dan tidak memerlukan itu.

 

4. Ingin semua hal berjalan dengan lancar dan baik, namun mudah depresi dan frustasi

 

Menginginkan hasil yang sempurna dan berjalan dengan baik, seorang perfeksionis akan bekerja lebih keras dan lebih panjang dibanding orang lain. Hal ini akan membuatnya lebih lelah dan mudah frustasi ketika hasil yang dihasilkan tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

 

5. Menjadi pribadi yang kritis dengan memikirkan segala hal, tapi cenderung membuang waktu

 

Perfeksionis akan memikirkan segala sesuatu dari hulu ke hilir. Ia adalah orang yang kritis dan akan memikirkan semuanya matang-matang karena ia membenci hal yang tidak berjalan dengan baik. Menjadi pemikir yang kritis itu perlu, namun untuk beberapa situasi dan kebutuhan yang mendesak, perfeksionis akan cenderung membuang waktu.

 


 

Di satu sisi, menjadi perfeksionis merupakan sesuatu hal yang baik karena dapat menghasilkan kualitas pekerjaan yang sempurna. Namun menjadi perfeksionis akan berdampak kepada permasalahan secara sosial. Misalnya, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap rekan kerja atau kuliah untuk menghasilkan pekerjaan atau tugas yang sempurna, terkadang membuat rekan kita merasa tertekan. Hal ini akan berdampak kepada hubungan yang menjadi renggang dan kaku.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Gordon L. Flett dan Paul L. Hewitt yang berjudul “Perfectionism in the Self and Social Contexts: Conceptualization, Assessment, and Association with Psychopathology” mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perfeksionis dan masalah kesehatan mental, yaotu depresi dan gangguan seperti anorexia nervosa dan bulimia.

 

Lalu bagaimana cara kita mengatasi sifat perfeksionis dalam kehidupan sehari-hari?

 

1. Menjadi realistis

 

Terapkan pola pikir yang realistis bahwa tidak semua hal di dunia ini menuntuk kesempurnaan. Tidak ada orang yang sempurna dan kamu sudah melakukan hal terbaik yang kamu bisa.

 

2. Lihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain

 

Misalnya kamu baru selesai ujian dan tidak mendapatkan nilai A pada mata kuliah tersebut. Sebagai seorang yang perfeksionis, pastinya hal ini akan membuatmu merasa frustrasi. Coba lihat orang lain yang mendapat nilai lebih rendah dari kamu. Bagaimana ia bersikap? Tetap terlihat ceria dan positif?

 

Tidak meraih nilai A pada sebuah mata kuliah mungkin adalah hal yang wajar karena mata kuliah tersebut memang dikenal sangat sulit, atau mungkin tidak apa-apa untuk sekali waktu kamu tidak mendapatkan nilai A. Karena nilai jelek tidak membuat duniamu runtuh seketika.

 

3. Kompromi dengan diri sendiri

 

Punya target yang tinggi dan sempurna itu baik, tapi kamu harus kompromi dengan diri sendiri untuk turunkan standar kamu sedikit. Kalau terus menerus ngotot mencari kesempurnaan, kamu akan lelah sendiri, Kalau terus menerus menuntut orang di sekeliling kamu untuk melakukan hasil yang sama dengan kamu, kamu akan menjadi orang yang tidak menyenangkan untuk diajak berteman atau bekerjasama.

 


 

Pahami kapan kamu harus menjadi perfeksionis dan kapan menjadi orang yang live in the moment and take life as it comes.

 

Don’t aim for perfection. Aim for “better than yesterday"

- Izey Victoria Odiase -

 

TOP VIDEO
Kejar Mimpi | Ide bisnis startup yang menjanjikan
Pintar Mengatur Cashflow Demi Masa Depan
Mau coba Solo Traveling? Kenapa enggak!
Sudah Siap Meraih Mimpi Bersama Beasiswa #KejarMimpi CIMB Niaga 2019?