Ngeri! Tumpukan sampah di Indonesia bisa menyaingi tinggi Candi Borobudur

Indonesia termasuk ke dalam 10 negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Banyaknya penduduk yang tinggal di sebuah negara tentunya akan menumpulkan sejumlah persoalan, diantaranya adalah produksi sampah dan pengolahannya.

 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan bahwa produksi sampah nasional mencapai 175.000 ton per hari. Rata-rata satu orang penduduk Indonesia menyumbang sampah sebanyak 0.7kg per hari. Jika dikalkulasi dalam skala tahunan, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 64juta ton!

 

Jumlah yang sangat besar, dan bukan jumlah yang patut dibanggakan.

 

Berikut ini adalah fakta terkait sampah di Indonesia yang perlu kamu ketahui:

 

1. Kota metropolitan dan kota besar adalah penghasil sampah terbesar

 

Kota metropolitan dan kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, adalah kontributor penyumbang sampah terbesar.

 

Menurut Direktur Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, rata-rata produksi sampah harian di kota metropolitan (jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa) sebesar 1.300 ton dan kota besar (jumlah penduduk 500 ribu - 1 juta jiwa) adalah sebesar 480 ton.

 

 

2. 69% sampah di Indonesia hanya ditimbun di TPA

 

Menurut hasil studi di tahun 2008 yang dilakukan oleh KLHK, pola pengelolaan sampah di Indonesia sebagian besar diangkut dan ditimbun di TPA atau Tempat Pembuangan Akhir (69%). Sisanya sampah tersebut dikubur (10%), dikompos dan didaur ulang (7%), dibakar (5%), dibuang ke sungai (3%), dan sisanya tidak terkelola (7%).

 

Dengan 69% sampah yang dihasilkan hanya ditimbun di TPA dan produksi sampah harian mencapai ratusan ribu ton, tidak heran kalau dalam waktu dekat tumpukan sampah di Indonesia bisa menyaingi tinggi Candi Borobudur!

 

Tumpukan sampah yang sudah mulai overload di TPA Bantar Gebang, Bekasi (Foto: Kompas)

 

Permasalahan lain akan muncul ketika TPA sudah tidak lagi mampu menampung sampah-sampah tersebut. Sampah akan tersebar di lingkungan tempat tinggal dan bisa mencemari lingkungan. Lingkungan yang tercemar oleh pembuangan sampah akhirnya akan kotor, kumuh, jorok dan bau, dan kemudian akan menimbulkan penyakit.

 

3. Sampah rumah tangga mendominasi sampah nasional

 

Sampah rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap sampah nasional (Foto: iNews)

 

KLHK menyebutkan bahwa sumber sampah yang paling dominan berasal dari rumah tangga (48%). 24% sampah berasal dari pasar tradisional dan 9% berasal dari kawasan komersial. Sisanya berasal dari fasilitas publik, sekolah, kantor, jalan dan sebagainya. Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah sampah organik (sisa makanan dan tumbuhan), kemudian plastik dan kertas.

 

 

4. Jumlah sampah plastik meningkat dalam 10 tahun terakhir

 

Hanya 10-15% sampah plastik yang dapat dikelola (Foto: RRI)

 

Komposisi sampah khusus plastik di Indonesia saat ini sekitar 15% dari total timbunan sampah, terutama di daerah perkotaan.

 

Peningkatan sampah plastik meningkat dalam 10 tahun terakhir ini, yang merupakan hasil dari perubahan gaya hidup masyarakat. Seperti contohnya kemasan makanan dan minuman ringan, kantong belanja, plastik pembungkus, dan gelas plastik dari warung kopi yang sedang hits di kota-kota besar.

 

Dari total timbunan sampah tersebut, yang didaur ulang diperkirakan baru 10-15% saja. 60-70% ditimbun di TPA dan 15-30% belum terkelola dan terbuang ke lingkungan seperti ke sungai, danau, pantai dan laut.

 

 

5. Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia

 

Fakta dalam poin empat dikuatkan oleh data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyatakan bahwa 3,2 juta ton sampah yang dibuang ke laut adalah sampah plastik. Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

 

Dunia pernah digemparkan dengan kematian paus sperma yang ditemukan dalam keadaan mati dan membusuk di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dan ditemukan sekitar 5,9 kg sampah plastik di dalam tubuh paus tersebut. Lokasi kematian paus sperma tersebut berada di kawasan konservasi Taman Nasional Perairan (TNP) Wakatobi yang seharusnya menjadi wilayah aman bagi biota laut. Temuan ini pun menjadi bukti kuat bahwa Indonesia sedang dalam masa darurat sampah plastik.

 

Ikan paus sperma yang mati di wilayah kawasan konservasi Taman Nasional Perairan (TNP) Wakatobi, Sulawesi Selatan (Foto: Mongabay)

 

Selain mencemari organisme laut, pencemaran plastik di laut juga mengancam manusia. Melansir dari Kompas.id, studi terbaru menemukan kandungan mikroplastik pada garam dan ikan di Indonesia.

 

Plastik mikro pada garam dan ikan di Indonesia ditunjukkan lewat dua penelitian terpisah yang dilakukan peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar dan Pusat Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Peneliti menemukan adanya 10-20 partikel mikroplastik per kilogram garam yang dapat membahayakan manusia jika dikonsumsi.

 

 

6. Sampah kemasan makanan dan minuman paling banyak ditemukan di pantai

 

Riset yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia dengan sejumlah komunitas lokal pada tahun 2018 di tiga pantai di Indonesia menyimpulkan bahwa sampah yang paling banyak ditemukan di pantai adalah sampah kemasan makanan dan minuman. Ditemukan 10.594 sampah plastik bekas makanan produk dengan 797 merek berbeda. Mulai dari produk makanan dan minuman, produk perawatan tubuh, kebutuhan rumah tangga hingga punting rokok.

 

Dengan besarnya kuota produksi sampah yang dihasilkan per hari dan hanya 7% yang dapat didaur ulang, tidak heran kalau laut dan sungai kita penuh dengan sampah.

 

7. Bali sudah melakukan “diet plastik”

 

Pada Desember 2018, Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 97 Tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai (PSP). Pergub ini bertujuan untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai sekaligus juga untuk mencegah kerusakan lingkungan. Langkah drastis Bali ini menjadikan Pulau Dewata sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan aturan bebas plastik.

 

Foto: Brilio

 

Pergub ini sudah diuji coba sejak awal tahun 2019 sebagai transisi sebelum diberlakukan peraturan sepenuhnya mulai 23 Juni 2019 lalu. Dalam Pergub tersebut, baik produsen, distributor, dan pelaku usaha dilarang menggunakan kantong plastik sekali pakai yang berupa kantong plastik, styrofoam (Polisterina), dan sedotan plastik.

 

Sebagian supermarket dan restoran di Bali sudah mulai menerapkan Pergub ini sejak awal tahun 2019. Mereka mulai beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti daun pisang sebagai pembungkus makanan atau tas dari kertas bekas.

 


 

Permasalahan sampah yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari minimnya kesadaran dari masyarakat hingga kurangnya peraturan pemerintah dalam mengurangi produksi sampah.

 

Masyarakat harus mulai menerapkan sistem 3R: Reuse, Reduce, Recycle. Penerapan sistem 3R ini dapat dilakukan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari, yang bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi produksi sampah yang dihasilkan dari rumah tangga.

 

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah, dan recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

 

Ayo sama-sama kita terapkan sistem 3R dan rubah gaya hidup mulai dari sekarang, untuk kejar mimpi Indonesia yang bersih dari sampah.

 

TOP VIDEO
Kejar Mimpi | Ide bisnis startup yang menjanjikan
Pintar Mengatur Cashflow Demi Masa Depan
Mau coba Solo Traveling? Kenapa enggak!
Sudah Siap Meraih Mimpi Bersama Beasiswa #KejarMimpi CIMB Niaga 2019?