Kenapa kata-kata positif bisa menjadi “toxic”?

Saat melihat teman merasa sedih atau mulai menyerah, sebagai teman yang baik tentunya kita akan menyemangati mereka dengan kata-kata positif. Se-simple “Semangat ya!” atau “Kamu nggak sendirian kok pasti bisa”. Ada kalanya kata-kata penyemangat ini cukup ampuh mengurangi pikiran dan perasaan buruk mereka. Tapi jangan salah, bagi sebagian lain menganggap hal ini justru membuat mereka makin merasa berkecil hati, bahkan memicu depresi.

 

Kata penyemangat ini bukan berarti kita nggak butuh disemangatin ya. Pastinya kita senang masih ada teman yang peduli dan menaruh perhatian pada masalah kita. Kadang kita nggak sadar kalau seseorang nggak butuh disemangati dan nggak butuh kata-kata positif, melainkan empati dari diri kita. Situasi seperti ini disebut Toxic Positivity. Mengapa kata-kata positif bisa menjadi ‘toxic’?

 

Kata penyemangat bisa membuat mental semakin depresi

 

Toxic positivity itu ketika seseorang terus menerus mendorong kita yang lagi ada masalah untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan pengalaman yang dirasakan kita atau tanpa memberi kesempatan kita untuk meluapkan perasaannya.

 

Susan David, seorang instruktur psikologi di Universitas Harvard bilang: “Merasakan, menerima dan tidak menyangkal emosi negatif itu sebenernya adalah hal yang natural.” Emosi yang ditekan bisa jadi penyebab gangguan psikis, yang bisa menjadi sumber utama munculnya rasa cemas dan depresi.

 

Serupa dengan Susan, dr. Jiemi Ardian, seorang residen psikiatri di RS Muwardi Solo menjelaskan setiap orang berhak menunjukkan emosi negatif seperti sedih, jijik, bahagia atau takut dan emosi ini punya pesan. Kalau emosi-emosi itu disangkal atau dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi negatifnya menumpuk. Kemudian bisa memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis. Emosi yang ditekan terus bisa jadi penyebab gangguan psikis. Yang paling sering terjadi gangguan kecemasan dan depresi.

 

Ketika berpura-pura positif, kita cenderung menyalahkan diri.

 

Saat seseorang sedang tertekan atau berduka lalu memaksakan diri untuk tetap positif dan mencoba berpura-pura senang, yang kemungkinan terjadi adalah seseorang menyalahkan diri sendiri karena tidak sesuai ekspektasinya. Menyalahkan diri sendiri bisa berujung dengan rasa kecewa akibat harapan yang nggak tercapai. Akhirnya malah memperburuk perasaan negatif dalam diri seseorang.

 

Ketika mereka terus berkata bahwa “aku itu orang yang menyenangkan” atau berfokus menyangkal hal-hal jelek tentang diri mereka, mereka secara nggak langsung memanipulasi perasaan diri sendiri yang berujung dengan terobsesi.

 

Yang mereka butuhkan bukan Positivity tapi Empati.

 

Nggak semua orang butuh disemangati saat mereka bercerita soal perasaan negatif atau pengalaman buruknya. Padahal yang sedang dibutuhkan orang tersebut adalah empati. Kesempatan untuk didengar dan dipahami.

 

Hal yang lebih utama ketika seseorang berhadapan dengan teman yang ditimpa masalah bukan merespons dengan nasihat, apalagi dorongan positif yang seolah menjadi formalitas. Mendengarkan orang yang mau berkeluh kesah tanpa sikap menghakimi, atau memberinya kesempatan untuk mengekspresikan setiap emosi sampai mereda adalah hal yang lebih penting dilakukan.

 

Misal tanyakan hal apa yang membuatnya ingin menyerah atau apa yang membuatnya begitu sedih atau tertekan. Saat menghadapi teman yang sangat marah, coba mendengarkan cerita teman lebih dulu sebelum buru-buru menasihatinya. Setelah teman sudah mencurahkan emosinya, baru deh kamu bisa memberikan pendapat sebab akibat jika temanmu mau melakukan sesuatu atas luapan emosinya.

 

dalam akun Instagram @jiemiardian, dr. Jiemi kasih kita kisi-kisi nih gimana cara mengubah kata toxic positivity dengan empati.

 

 

Kita nggak bisa memilih emosi mana yang akan kita rasakan. Jika kita mencoba untuk menyangkal satu emosi, yang ada malah membebankan pikiran kita untuk berusaha melupakan itu. Semakin disangkal atau dilupakan, akan membuat pikiran kita semakin ingat dan malah stress. Saat kamu atau temanmu merasa sedih, marah atau kesal, luapkan aja, nikmati perasaan itu. Mental kita pun akan terbiasa dalam menghadapi situasi yang terburuk sekalipun.

 

TOP VIDEO
Kejar Mimpi | Ide bisnis startup yang menjanjikan
Pintar Mengatur Cashflow Demi Masa Depan
Mau coba Solo Traveling? Kenapa enggak!
Sudah Siap Meraih Mimpi Bersama Beasiswa #KejarMimpi CIMB Niaga 2019?